Ini Kata Inisiator GRAK, Nyoman Gde Sudiantara Soal Kondisi Bangsa

Kamis, 18 Mei 2017 20:08 Nasional

Bagikan

Ini Kata Inisiator GRAK, Nyoman Gde Sudiantara Soal Kondisi Bangsa
Presscon GRAK, Kamar Bung Karno, Inna Bali Hotel (wan-SN)
Denpasar, Semetonnews - Gerakan Anti Radikalisme, atau GRAK menggelar perhelatan tidak hanya aksi simbolis, namun GRAK berkomitmen akan menyebarkan ajaran Pancasila agar kembali menjadi pemahaman generasi muda, sebagai benteng dari ancaman degradasi bangsa.

Nyoman Gde Sudiantara, sebagai inisiator GRAK yang menggagas acara ini, mengaku bahwa ia gelisah, melihat pergeseran nilai Pancasila yang menjadi pandangan hidup bangsa, sejak bangsa ini belum berdiri, yang mana hari ini adanya upaya upaya pihak intoleran, yang secara radikal mau mengganti dengan Ideologi lain. 

Menurutnya secara pribadi, ia merasa terganggu, dengan berita yang beredar di medsos, sebagai anak bangsa dirinya berpikir , sampai adanya statemen dari Kapolri tentang silent majority, hal lainya yang perlu digaris bawahi, GRAK tidak ada kaitan dengan situasi politik yang terjadi di luar daerah. 

"Saya merasa terusik dengan situasi yang terjadi, provokasi dan intoleransi, dimana hal ini dapat memecah belah bangsa, oleh karenanya kami mengajak segenap anak bangsa yang peduli akan situasi bangsa untuk bersama sama ikut serta mengawali Gerakan Anti Radikal, yang nanti pada tanggal 20 Mei, bahwa kita di Bali mengawali Gerakan Ini sebagai awal meski tidak yang pertama,hingga menyebarkan paham ini, bahwa NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI (tidak dalam arti yang lain), selain itu Pancasila sebagai dasar negara tidak perlu diubah, sampai kapanpun,"jelas pria yang akrab dipanggil Mr Happy ini.

Menurutnya perlunya komitmen atas situasi bangsa ini karena Pancasila digali dari wawasan nusantara oleh sang proklamator, yang mana itu adalah keseharian kehidupan kita rakyat Indonesia. 

Sikap hidup ber-Pancasila, haruslah menjadi pedoman hidup anak bangsa, sila sila didalamnya harus kembali ditanamkan kepada generasi bangsa, dalam kurikulum pendidikan.

"Pancasila itu bukan hanya hadir dalam  gedung gedung pemerintah, ditempel dibelakang kursi pejabat,namun diejawantahkan dalam kehidupan sosial kita, dan inilah tugas kita semua, rakyat dan pemerintah," pungkasnya. (SN)