Hajar Pria Lokal Hingga Tewas, Bule Jerman Terancam 2 Tahun Penjara

Selasa, 13 Juni 2017 01:30 Hukum & Kriminal

Bagikan

Hajar Pria Lokal Hingga Tewas, Bule Jerman Terancam 2 Tahun Penjara
Terdakwa Giuliano Lemoine saat berkonsultasi dengan tim kuasa hukumnya (Ist/SN)
Denpasar,Semetonnews-Bule Jerman bernama Giuliano Lemoine nampaknya harus menghabiskan libur panjangnya di dalam Lapas Kelas II A Kerobokan, Denpasar. Pasalnya, perbuatanya yang menghajar pria lokal hingga mendapatkan perawatan dan akrhirnya meninggal dunia, dia harus dihadapkan di persidangan, Senin (12/6/2017) untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya. 

Sidang masih dengan agenda pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Lanang Raharja. Dalam dakwaanya yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpinan Esthar Okativi, Dewa Lanang menjerat terdakwa dengan Pasal tunggal yaitu Pasal 351 ayat (1) KUHP. 

Dalam dakwaan diungkap, aksi pemukulan terhadap Steven Djingga (korban)  terjadi pada Selasa, 21 Maret 2007 sekitar pukul 01.00 wita di depan Paddys Club, Jalan Legian, Kuta, Badung. Mulanya, korban Steven Djingga sedang bersama saksi Wisno Toni mengunjungi Paddys Club. 

Sesampai ditempat hiburan malam itu korban tanpa sengaja bersenggolan dengan terdakwa yang akhirnya berujung keributan antara korban dan terdakwa. Saat keduanya ribut, sempat dilihat dan dilerai oleh saksi Putu Yadi Wartawan. "Selain melerai, saksi Yadi juga meminta kepada korban dan terdakwa untuk keluar dari Paddys Club," beber Jaksa Lanang

Sampai diluar, ternyata pertengkaran masih terus terjadi. Terdakwa Giuliano Lemoine memukul hidung korban. Hanya sekali pukul saja korban Steven Djingga langsung terkapar dengan kepala bagian balakang membentur lantai.  Melihat korban sudah terkapar tak berdaya, terdakwa Giuliano Lemoine langsung pergi bersama teman-temanya dengan mengunakan taksi. 

Melihat terdakwa kabur, saksi  Wisno Toni berupaya untuk mengejar dan menghentikan namun tidak berhasil. "Kemudian korban Steven Djingga dilarikan ke RS BIMC Simpang Siur untuk mendapat perawatan medis,"katanya. Namun setelah mendapat perawatan 4 hari di RSUP Sanglah, korban akhirnya meninggal dunia. 

Dari hasil visum et Repertum, disimpulkan bahwa pada tubuh korban ditemukan luka-luka memar dan lecet yang disebabkan kekerasan benda tumpul. Ditemukan pula patah tulang tengkorak, pendaharaan diatas dan dibawah selaput lunak otak, robekan atak serta perdarahan pada otak dan batang otak. 

Penyebab  kematian akibat kekersan benda tumpul pada kepala yang menimbulkan pendarahan otak mengakibatkan penekanan pada batang otak. Usai mendengarkan dakwaan, melalui kuasa hukumnya Simon Trombine, Edward TPHI Tobing dan Petrus sihombing terdakwa menyatakan menerima surat dakwaan itu sehingga tidak mengajukan eksepsi. (MG/SN)