Dituntut 10 Tahun, Pembunuh Pria Medan Ajukan Pembelaan

Selasa, 13 Juni 2017 22:08 Hukum & Kriminal

Bagikan

Dituntut 10 Tahun, Pembunuh Pria Medan Ajukan Pembelaan
Terdakwa Mahfud Hudori saat digiring jaksa menuju ruang sel tahanan usai mengikuti sidang (MG/SN)
Denpasar,Semetonnews-Mahfud Hudori, terdakwa kasus pembunuhan terhadap Imran Hamdani yang disebut sebut penyuka sesama jenis (Gaya) dituntut hukuman 10 tahun penjara pada sidang, Selasa (13/6/2017). Atas tuntutan itu, terdakwa bisa sedikit tersenyum karena tehindar dari ancaman hukuman mati. 

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Lanang Raharja dalam surat tuntutanya yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpinan Partha Bhargawa menyatakan terdakwa tidak terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP. Tapi terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 338 KUHP. 

"Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa Mahfud Hodori dengan pidana penjara selama 10 tahun,"kata Dewa Lanang. Atas tuntutan itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya, I Kade Agus Suparman dan Gde Manik Yogiartha sepakat untuk mengajukan pembelaan pada sidang pekan depan."Kami mengajukan pembelaan yang mulia,"kata Agus Suparman.

Dikatakan Agus, pembelaan yang akan disampaikan nanti, pada prinsipnya hanya untuk mempertegas  bahwa, perbuatan terdakwa bukanlah pembunuhan berencana, tapi murni membela diri. "Terdakwa memang tidak memiliki rencana untuk membunuh korban,"sebut pengacara muda ini.

Sebagaimana terungkap dalam dakwaan jaksa, kasus pembunuhan yang terjadi pada tanggal 25 Februari 2017 ini berawal dari terdakwa bersama saksi Amir Purbo Wilantara, Moh Latiful Rohim, Eri Setiawan, Budi Raharjo dan koban Imran Hamdani duduk bersama sambil minum.

Sekitar pukul 01.30 Wita, korban mengajak terdakwa untuk membeli makan. “Awalnya terdakwa menolak, tapi karena teman-teman yang lain mengatakan lapar, akhirnya terdakwa pergi bersama korban dengan mengendarai sepeda motor milik korban,” sebut jaksa Dewa Lanang. Dalam perjalanan, terdakwa membonceng korban. Nah, saat itulah tangan korban terus menggerayangi tubuh terdakwa.

“Selain itu korban juga beberapa kali menciumi terdakwa,” sebut JPU dalam dakwaanya. Mendapat perlakuan seperti itu, terdakwa sempat menghindar sehingga motor yang dikendarai menjadi oleng.  Korban juga sempat mengajak terdakwa untuk kencan. Namun ajakan itu ditolak oleh terdakwa.

Setelah membeli nasi, keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan itu, korban terus mengajak terdakwa ke penginapan. Entah karena apa, tiba-tiba terdakwa mengarahkan sepeda motor ke rumah saksi Angga Freandy."Di rumah ini terdakwa mengambil pisau dapur. Saat itu saksi Angga sempat bertanya, untuk apa pisau itu yang dijawab terdakwa tidak ada apa-apa,” kata jaksa Dewa Lanang.

Angga, sempat mengikuti korban dan terdakwa. Namun lagi-lagi terdakwa yang merasa tidak nyaman diikuti meminta kepada Angga untuk kembali. Dalam perjalanan, korban terus mengajak terdakwa untuk kencan sambil meraba-raba paha terdakwa. Terdakwa kemudian mengEmudikan sepeda motor menuju Gang Esa.“Terdakwa lalu menghentikan sepeda motor. Korban malah memegang pinggang terdakwa dan meminta terdakwa untuk membuka celananya,” kata jaksa Kejari Denpasar itu.

Terdakwa yang tidak terima diperlakukan seperti itu langsung mencabut pisau yang diambilnya di rumah Angga dan menusuk dada korban. Tak hanya itu, terdakwa juga kembali menusuk leher korban sebanyak dua kali."Akibat tusukan itu korban langsung tersungkur sambil memegang dadanya,” kata JPU.

Melihat korban tersungkur, terdakwa langsung meninggalkan korban kembali ke tempat terdakwa bersama korban minum-mimum.“Terdakwa lalu mengganti baju dan selanjutnya kabur ke Banyuwangi,” sebut JPU.(MG/SN)