Anak Berhadapan Hukum Terus Meningkat

Selasa, 11 Juli 2017 11:07 Hukum & Kriminal

Bagikan

Anak Berhadapan Hukum Terus Meningkat
Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak (
Denpasar, Semetonnews -  Komnas Anak menyorot tingginya kasus tindak oidana yang dilakukan anak, menurut catatan komnas perlindungan ana, terdapat dua kasus tindak pidana yang melibatkan anak, sebelumnya terjadi di Tasikmalaya Kota, Jawa Barat. Adalah AW anak sebagai pelaku tindak pidana pembunuhan sadis dengan cara menggorok leher yang sebelumnya diduga melakukan kejahatan seksual terhadap dua anak usia 7 dan 11 tahun anak tetangganya di Tasikmalaya Kota, Jawa Barat, pada Jumat 30 Juni 2017 lalu.  Peristiwa yang hampir sama dan melibatkan anak sebagai pelaku tindak pidana terulang lagi di Denpasar Bali.

Prada Januar Setiawan (20) anggota TNI yang sedang menjalani pendidikan Militer di Pulaki, Buleleng Bali terpaksa meregang nyawa setelah ditusuk DKDA (16) bersama 3 orang temannya masing terduga CI (17), RA (19) FC (22) dengan sebilah pisau sejenis sangkur,  Minggu dini hari 09 Juli 2017 di Jl Ngurah Rai, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung Bali.

Satu jam setelah peristiwa penusukan anggota TNI yang sedang berlibur dinas pendidikan di Denpasar,  atas kerja cepat aparat Polresta Denpasar telah memeriksa 11 terduga pelaku dan menetapkan DKDA (16) siswa salah satu SMA di Denpasar sebagai pelaku utama. 

Demi ketentraman masyarakat Bali dan tidak terjadi mis-komunikasi atas peristiwa penusukan anggota TNI,  Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga pelaksana dan fungsi keorganisasian dari Perkumpulan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat yang sejak 1998 memberikan pelayanan dan  pembelaan serta perlindungan terhadap anak di  Indonesia, mengapreasi dan mengucapkan terima kasih kepada bapak Mayjen Komarudin Simanjuntak selaku Pangdam Udayana yang telah memberikan respon  dan pernyataan yang menyejukkan atas peristiwa penusukan anggota TNI itu, dan memerintahkan kepada prajurit serta jajaran pimpinan TNI di pulau Dewata ini untuk mencari tahu latarbelakang pelaku dan untuk tidak terpancing terhadap isu yang tidak sesuai dengan fakta. Mari kita jaga ketentraman, demikian disampaikan Mayjen TNI  Komaruddin Simanjuntak dalam jumpa pers kepada Media di Bali.

Mengingat peristiwa penusukan ini melibatkan 2 orang usia anak, dan sesuai pula dengan ketentuan UU No. 11 Tahun 2912 tetang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dan UU No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 Tahun 2002 mengenai  Perlindungan Anak,  Komnas Perlindungan Anak telah menerjunkan Quick Investigator Komnas Anak Tim Bali untuk membangun kerjasama investigasi dan  pendampingan  terhadap terduga pelaku anak baik ditingkat penyidik Polri unit PPA dan mengapreasi peran dan gerak cepat P2TP2A Bali.

Mengingat pelakunya masih usia anak dan dengan  tidak mengurangi rasa keadilan bagi keluarga korban meninggal dan korban luka,   Komnas Perlindungan Anak berharap pihak Kepolisian Polresta Denpasar  dan aparatur penegak hukum lainna dalam penanganan proses penegakan hukum bertindak mengedepankan prinsip-prinsip  dari UU SPPA da UU Perlindungann Anak, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak.  

Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia mengatakan, peningkatan terjadinya tindak pidana yang pelakunya anak wajib menjadi fokus perhatian Pemerintah.

"Peristiwa yang tidak kita inginkan dan meningkatnya keterlibatan anak sebagai pelaku tindak pidana di Indonesia haruslah menjadi perhatian, dan refleksi bagi orangtua dan keluarga Indonesia,  guna memberikan ekstra perhatian bagi perkembangan prilaku anak dan menjadi intropeksi diri terhadap peran orangtua sebagai imam dan contoh bagi anak untuk menerima nilai-nilai kebaikan dalam lingkup sosial dan rumah. Mari kita ciptakan rumah dan keluarga yang Ramah anak."ujarnya. Selasa 11 Juli 2017.

"Sekali lagi melalui media ini Komnas Perlindungan Anak mengapreasi sikap dan peranan Pangdam Udaya dan jajarannya, Polresta Denpasar dan Quick Investigator Komnas Anak Tim Bali serta P2TP2A Bali  atas kerjasamanya," tambah Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia 

Kasus pengeroyokan terjadi di Jalan By-pass Ngurah Rai, Kuta Selatan, depan SPBU Taman Griya, Jimbaran. Prada Januar S. (20) meregang nyawa setelah dikeroyok beberapa remaja dan diduga berstatus pelajar. Sedangkan temannya, Johari mengalami luka di bagian mulut.

Kejadiannya Minggu (9/7) sekitar pukul 05.00 Wita. Korban asal Manggarai, NTT. Awalnya pada Sabtu (8/7), korban yang sedang berlibur dijemput beberapa temannya satu daerah di Kodim 1611/Badung untuk berkunjumg ke Nusa Dua, tempat tinggal temannya tersebut.
Pada Minggu pukul 05.00 Wita, korban dan teman-temannya mengendarai sepeda motor melintas di TKP.

Saat itulah mereka dihadang sekolompok remaja naik sepeda motor. Akhirnya perkelahian tak terelakkan dan korban dikeroyok. Korban meninggal dunia dengan luka tusuk pada dada sebelah kanan, luka pada daun telinga kanan. Korban lainnya luka-luka pada bagian wajah.(RLS/wn/SN)