Dituntut Ringan, Rai Sutha Ajukan Pembelaan Secara Lisan

Rabu, 12 Juli 2017 23:16 Hukum & Kriminal

Bagikan

Dituntut Ringan, Rai Sutha Ajukan Pembelaan Secara Lisan
Terdakwa I Gusti Rai Sutha saat bersaksi untuk Gusti Made Patra dalam kasus yang sama (Dok/SN)
Denpasar,Semetonnews-Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Denpasar menuntut I Gusti Rai Sutha dengan pidana penjara selama 1,5 tahun atas kasus mark up perjalanan dinas (Perdin) DPRD Kota Denpasar. Jaksa menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

Namun pada sidang, Rabu (12/7/2017) Jaksa tidak menuntut mantan Sekwan DPDR Kota Denpasar itu untuk mengembalikan kerugian negara karena kerugian negara sudah dikembalikan pada persidangan I Gusti Made Patra. 

Dalam tuntutan JPU Dewa Lanang Raharja dan Dewa Narapati menyatakan, terdakwa Rai Sutha tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi sebagaimana tertuang dalam dakwaan primer yaitu Pasal 2 ayat (1) UU RI. No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI. No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI. No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi Jo Pasal 64 ayat (1), Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. 

Namun terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunana kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya kerena jabatanya atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara. Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 3 UU RI. No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI. No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI. No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. 

"Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan,"kata jaksa Dewa Narapati dalam surat tuntutanya yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpinan Wayan Sukanila.

Selain menuntut hukuman penjara, jaksa Kejari Denpasar itu juga menuntut agar terdakwa membayar denda sebesar Rp 50 juta."Apa bila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama 6 bulan,"tegas Dewa Narapati. 

Atas tuntutan itu, terdakwa yang didampingi kuasa hukum, Made Ahmad Hadiana langsung mengajukan pembelaan secara liasan. Dalam pembelaan lisan itu, terdakwa melalui pengacaranya memohon agar membebaskan dirinya dari dakwaan apabila tidak terbukti bersalah

."Sebaliknya, apabila majelis berpendapat lain dan menyatakan terdakwa terbukti bersalah, maka kami mohon putusan yang seadil-adilnya dan seringan-ringanya,"tegas Made Ahmad dimuka sidang. 

Made Ahmad, usai sidang mengatakan, pihaknya tidak mengajukan pembelaan secara tertulis karena permintaan dari terdakwa."Terdakwa mengatakan untuk tidak mengajukan pembelaan secara tertulis, makanya kami sempaikan secara lisan saja,"ujar pengacara berambut gondrong itu. Seperti diketahui, akibat adanya mark up ini, negara dirugikan Rp 2,2 miliar. Namun dalam perjalanan, kerugian negara telah dikembalikan.(MG/SN)