KOMUNIKASI NASI GORENG

Selasa, 08 Agustus 2017 17:41 Kolom Opini

Bagikan

KOMUNIKASI NASI GORENG
Sby & Prabowo, (infopresiden-SN)
KOMUNIKASI NASI GORENG

oleh : Denny Siregar

Politik "nasi goreng" yang menjadi simbol pertemuan SBY dan Prabowo, menjadi relevan jika dibandingkan situasi saat ini yang dihadapi Jokowi..

Menuju Pilpres 2019, gorengan isu semakin gencar untuk Jokowi. Mereka mengambil bumbu apa saja untuk di goreng, mulai dari kata ndeso yang diucapkan Kaesang sampai masalah dana haji.

Awalnya saya pikir gorengan isu serampangan itu adalah tanda kepanikan lawan. Dan ternyata akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa gorengan isu itu dikerjakan secara sistematis untuk mengikis karakter Jokowi perlahan-lahan.

Belajar dari kasus Ahok, ternyata model komunikasi dengan menonjolkan kinerja pembangunan tidaklah efektif.

Kenapa ? Karena masih banyak pemilih kita - bahkan di Jakarta sekalipun - yang memilih pemimpin karena faktor emosional, bukan rasional. Dan metode inipun dijalankan kembali untuk menghantam Jokowi.

Lihat saja, apapun yang dilakukan Jokowi - meskipun itu baik - dipelintir sebagai senjata untuk menembak dia.

Contoh terbaik adalah ketika Jokowi ingin memberantas mafia pangan dengan memperkarakan makelar beras besar seperti PT IBU. Tindakan yang dilakukan pemerintah itu malah diputar 180 derajat menjadi tindakan yang merugikan rakyat, khususnya petani. PT IBU malah menjadi pahlawan sedangkan pemerintah menjadi penjahatnya.

Contoh lainnya lagi adalah dana haji.

Pengelolaan dana haji untuk infrastruktur yang sejatinya mengekor suksesnya Malaysia mengelola Tabung Haji-nya, digoreng seolah-olah Jokowi tidak amanah. Isu agama pun dipedaskan supaya Jokowi lebih tampak sebagai komunis daripada seorang Islami, yang ingin para calon jamaah haji yang sudah menabung bisa mendapatkan manfaatnya.

Masyarakat dibutakan dengan tindakan para penjual nasi goreng yang dulu juga pernah memanfaatkan dana haji untuk investasi pada masa kepemimpinannya.

Bahkan si penjual nasi goreng yang satu lagi - yang belum pernah memimpin itu pernah berikrar jika menang dia akan memanfaatkan dana haji - yang tercatat bernilai hampir 100 trilyun rupiah itu - untuk pembangunan Indonesia.

Ini mirip dengan isu Sumber Waras, isu Ahok arogan sampai isu Al Maidah 51, yang dihantamkan kepada Ahok untuk mengalihkan masyarakat dari keberhasilan pembangunan yang dilakukannya.

Dan mereka berhasil. Keberhasilan ini harus mereka ulangi.

Kelemahan pemerintah Jokowi sebenarnya hanya satu, yaitu di komunikasinya.

Para pejabat di Kementrian banyak yang tidak mampu menjelaskan dengan sederhana apa yang mereka lakukan.

Contoh, pencabutan subsidi listrik.

Sebenarnya mudah mengkomunikasikan masalah pencabutan subsidi listrik ini, yaitu dengan bahasa berbagi dengan saudara kita di daerah lain yang belum kebagian listrik. Lucunya, pejabat PLN lebih senang mengutak-atik angka ketika berbicara di publik.

Kerumitan hitungan ini menjadikan komunikasi tidak efektif dan masyarakat tidak mendapat gambar besarnya. Inilah yang dimanfaatkan para penjual nasi goreng untuk memelintir isu ke masyarakat bawah bahwa Jokowi tidak berpihak ke rakyat..

Dan banyak lagi komunikasi yang tidak efektif dari Kementrian seperti pembekuan aplikasi Telegram, pembubaran Perppu dan lain sebagainya.

Karena tidak efektifnya komunikasi inilah, maka para penjual nasi goreng berpesta pora dengan menyodorkan nasi goreng mereka kepada Jokowi. Ada yang nasgor seafood, ada yang nasgor ikan asin, pete dan sebagainya. Kalau bisa sepedas mungkin, biar Jokowi sakit perutnya..

Mungkin sudah saatnya pakde Jokowi mengumpulkan para menterinya untuk bisa berkomunikasi dengan gaya bahasa sederhana seperti yang dilakukan para Srikandi yaitu bu Susi, bu Retno dan bu Sri Mulyani. 

Atau kalau perlu Menterinya wanita semua, karena wanita lebih komunikatif dalam menyampaikan sesuatu dibanding pria..

Sambil minum kopi biar lebih santai tentunya.

www.dennysiregar.com