Deklarasi Revitalisasi Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI)

Kamis, 23 November 2017 10:24 Nasional

Bagikan

Deklarasi Revitalisasi Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI)
Deklarasi Revitalisasi Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI)
Yogyakarta,  Semetonnews - Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia adalah sebuah wadah para sarjana yang berjiwa marhaenis yang berkehendak menyatukan barisan perjuangan bersama untuk membangun bangsa dengan membawa arah intelektual kebangsaan yang berpegang pada Pancasila, Negara kesatuan Republik Indonesia, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, Bahasa Indonesia dengan penghormatan serta penghargaan terhadap budaya dan kearifan lokal daerah di Indonesia.

Sejarah telah mencatat bahwa Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia ini berdiri sejak tahun 1963 dan telah menyelenggarakan kongres I dan Seminar Pembangunan Ikatan Sardjana Rakyat Indonesia di Jakarta pada Tanggal 8-13 Januari 1964. Presiden Sukarno menyampaikan sambutan tertulisnya tertanggal 6 Januari 1964.

Bahwa atas dasar kenyataan sejarah dan tantangan bangsa masa kini dan masa mendatang, maka disusun dan disempurnakanlah Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia pada Deklarasi Revitalisasi ISRI pada tanggal 11 November 2017 di Yogyakarta.

Adapun bunyi Deklarasi Revitalisasi ISRI adalah sebagai berikut:

“Bahwa tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dan oleh karena itu, maka kemerdekan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 serta Pancasila sebagai Dasar Negara dan suatu pedoman hidup way of life harus senantiasa dijaga dan dipertahankan dengan prinsip Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Pancasila sebagai Ideologi negara harus dijadikan dasar dari setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh penyelengga Negara dan digunakan rakyat sebagai tolok ukur dalam mengawal kebijakan penyelenggara Negara telah sesuaikah dengan Pancasila.

Sebagai sebuah cita-cita luhur para pendiri bangsa, maka tujuan bernegara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut diatas merupakan suatu yang mutlak untuk terus diperjuangkan. Dan syarat pokok terwujudnya tujuan negara tersebut adalah terciptanya rakyat yang adil makmur dan persatuan nasional yang kokoh.

Didorong oleh kesadaran kolektif dan tugas sejarah yang diembannya, maka para sarjana yang berjiwa marhaenis merasa perlu membentuk sebuah wadah yang dapat mempersatukan seluruh potensi sarjana dalam barisan perjuangan bersama untuk membangun bangsa dan membawa arah intelektual kebangsaan yang berpegang pada Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Bendera Merah Putih, Bahasa Indonesia dengan penghormatan serta penghargaan terhadap budaya dan kearifan lokal daerah di Indonesia. Maka berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, direvitalisasi sebuah wadah perjuangan bersama yang bernama Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1963 dan telah menyelenggarakan kongres I dan Seminar Pembangunan Ikatan Sardjana Rakyat Indonesia pada Tanggal 8-13 Januari 1964 di Jakarta yang mana Presiden Sukarno menyampaikan sambutan tertulis tertanggal 6 Januari 1964. Bahwa atas dasar kenyataan sejarah dan tantangan bangsa masa kini dan masa mendatang, maka disusun dan disempurnakanlah Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia pada Deklarasi Revitalisasi ISRI pada tanggal 11 November 2017 di Yogyakarta”.

Itulah bunyi Naskah Deklarasi Revitalisasi Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) yang dibacakan oleh Prof. DR. Wuryadi, MS yang juga Ketua Dewan Penasehat ISRI yang diikuti perwakilan peserta deklarasi dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI, Banten, Kalimantan Tengah, Maluku, Sumbagsel.

Dilansir dari Sinar harapan, Para Sarjana yang berhaluan nasionalis ini membulatkan tekatnya dengan  mendeklarasikan kembalinya Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia yang telah ada sejak Tahun 1963 yang saat itu Ketua Umumnya adalah Roeslan Abdulgani (Menteri Koordinator Perhubungan dengan Rakyat) dan Wakil Ketua saat itu adalah Menteri Pertambangan Kabinet Ampera I yaitu Ir. Bratanata.


Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia di inisiasi juga oleh berbagai perwakilan elemen nasionalis beberapa diantaranya merupakan SC dan oleh Formatur di tempatkan sebagai Dewan Penasehat dan Dewan Kepakaran, antara lain Antonius Sunaryo Anggota ISRI 1963 duduk sebagai salah satu ketua bidang, Djoko Susilo Usman Ketua ISRI NTB dan Iman Toto yang juga anggota ISRI sebagai Dewan Penasehat, sedangkan dari Cendikiawan Marhaenis (CM) ada beberapa nama antara lain Dhia Prekasha Yoedha, Freddy Sutedi, Prof. Jim Wiryawan, dari Ikatan Sarjana Nasionalis Indonesia (ISNI) ada Didiek S Hargono, dari Persatuan Cendikiawan Nasional Indonesia (PCNI) ada Drs. Suwarno, DR. Pataniari Siahaan, RM. Soedhiro, dari LKSM ada Prof Wuryadi, Drs. Wisnu Wardhana, Karyono Wibowo dan berbagai perwakilan elemen Nasionalis seperti berdikari, CSSC, Jaringan Intelektual Muda Nasionalis dll.

Adapun formatur ISRI yaitu Ketua Drs. Wisnu Wardhana (Lembaga Kajian Strategik Marhaenis) dan Ir. Didiek Poernomo (Alumnus ITB – Cendikiawan Marhaenis) yang bertanggung jawab menyusun komposisi kepengurusan Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) 2017-2020 yang merupakan pengurus pusat peralihan. (SH/SN)