Kisah Pilu Maestro Seni Berko di Jembrana, Kini Hidup Miskin Tanpa Perhatian‎

Senin, 21 Maret 2016 18:19 Budaya & Pendidikan

Bagikan

Kisah Pilu Maestro Seni Berko di Jembrana, Kini Hidup Miskin Tanpa Perhatian‎
Dua maetro penari barko Jembrana tetap tersenyum lepas. (Dewa/Semetonnews)
Jembrana, Semetonnews ‎ - Naman Nengah Tuntun (95) dan Ni Ketut Nepa (90)‎ mungkin tidak asing didengar dilingkungan Lingkungan Pancar Dawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Merekalah peneri Berko Langka yang masih tersisa.

Menyandang gelas Maestroseni Berko, seni sakral dan langka di Jembrana, tidak lantas membuat pasangan suami istri yang sudah renta,  hidup bekecukupan. 


Seni Berko merupakan kesenian tari sakral asli Jembrana, yang memadukan gamelan (musik) dari bambu dan gamelan perunggu, kemudian dipadukan dengan tarian yang indah.


“Dulu waktu jaman penjajahan, sekitar tahun 1925, kesenian ini sempat berjaya. Saya bersama suami sering tampil keliling ke desa-desa. Bahkan sampai ke puri (keraton) dan kadang diundang oleh pemerintah Jepang,” terang Nepa, di rumahnya, Senin (21/3).


Bahkan pada saat pendudukan Jepang antara tahun 1942 sampai tahun 1945, menurutnya tentara Nipon sangat menggemari kesenian ini. Nepa dan suaminya  tergolong seniman paling laris kala itu.


“Pada jaman itu, kami tidak memikirkan upah menari, yang penting kami bisa tampil menari, kami sudah puas. Tapi kadang-kadang ada yang memberi kami uang atau beras sebagai imbalan,” tutur Nepa yang dibenarkan suaminya dengan bahasa Bali halus.


Namun sayangnya memasuki era 70-an, kesenian ini mulai meredup dan menurut Nepa, puncaknya di tahun 1980, kesenian ini tenggelam lantaran tidak adanya perhatian dari pemerintah.


“Tapi kami berdua di rumah masih suka mengajarkan tari Berko ini kepada gerasi muda, meskipun kami tidak di bayar. Kami ingin kesenian ini bangkit kembali,” harapnya.


Mirisnya, sedemikian besarnya pengabdian dua pasutri ini untuk membangkitkan seni Berko di Jembrana, di hari tuannya justru terbelenggu dengan kemiskinan.


Rumah satu-satunya untuk tempat berteduh pasutri ini hanya berukuran kecil, tidak lebih dari 4x6 meter. 

Berdinding gedeg atau bedek bambu yang sudah usang dan berlantai semen tanah yang sudah mengelupas.‎

Penulis : Dewa Putu Darmada 
Editor : Paksi Jalantaka ‎