Ahli Antropolog UI Akui Tidak Pernah Melihat Laut Sekotor Teluk Benoa

Sabtu, 02 April 2016 18:00 Peristiwa

Bagikan

Ahli Antropolog UI Akui Tidak Pernah Melihat Laut Sekotor Teluk Benoa
Dr Nurmala Kartini Sjahrir (Surya/Semetonnews)
Kuta, Semetonnews - Penilaian menarik disampaikan oleh seorang narasumber dalam kegiatan Youth For Climate Camp, Sabtu (2/3/2016). Wanita bernama Dr Nurmala Kartini Sjahrir ini menyebut bahwa Teluk Benoa adalah tempat yang kotor.

"Saya prihatin. Saya belum pernah melihat tempat sekotor Teluk Benoa. One of the worst place," ucapnya di sela acara yang para mayoritas pesertanya adalah para remaja Bali.

Sangat disayangkannya, Teluk Benoa yang harusnya tetap lestari, malah tidak diperhatikan. Bukan hanya oleh masyarakat sekitar, melainkan juga pemerintah sendiri.

"Itu tempat pembuangan sampah yang luar biasa. Itu mematikan spesies-spesies yang langka dari sana. Antara lain adalah kerang biru. Satu dua masih ada," sebutnya di sela acara yang mendapat dukungan dari Forum Peduli Mangrove (FPM) Indonesia tersebut.

Ahli Atropolog UI ini mengaku sudah kerap kali bolak-balik menelusuri Teluk Benoa sejak delapan tahun lalu. Kata dia tidak sedikit masyarakat sekitar yang ditemukan membuang sampah langsung ke area hutan. Utamanya oleh masyarakat yang rumahnya memang berhimpitan dengan kawasan hutan. "Saya pernah hampir ketimpa sampah," akunya.

Diungkapkannya, ada banyak jenis sampah yang ditemukan saat itu. Mulai dari sampah rumah sakit hingga kondom bekas bergelantungan di ranting pohon mangrove.

"Pemerintah menambah keriuhan dan kekotoran itu, dengan menjadikannya sebagai TPA. Panjangnya hampir dua kilo, tingginya hampir 15 sampai 20 meter. Pesawat yang datang mendarat, mengira itu bukit. Dengan begitu, saya tidak aneh kalau mangrove-mangrovenya jadi semaput," bebernya.

Dirinya pun mendengar bahwa di sekitaran Teluk Benoa ada aktivitas pencaplokan lahan mangrove melalui penimbunan botol-botol air mineral. Yang kemudian, lahan tersebut diperjualbelikan secara ilegal.

"Daerah ini (Teluk Benoa.red) adalah daerah yang paling disia-siakan. Saya juga tidak mengerti kok hebohnya baru sekarang," sebutnya.

Menariknya, di balik penilaiannya yang demikian terhadap Teluk Benoa, ternyata wanita yang menjabat sebagai Advisor for Climate Change to Coordinating Minister for Maritime and Resources ini terkesan cenderung setuju terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Dengan alasan, yang menyebabkan munculnya pro-kontra reklamasi ini hanyalah masalah komunikasi belaka.

"Masalah reklamasi dan revitalisasi itu adalah hal yang biasa-biasa saja. It's nothing a big deal about that. Dalam arti, bahwa harus mengikuti aturan main. Jadi silahkan saja, misalnya kalau ada yang melakukan investasi, persyaratannya adalah investasi itu haruslah menumbuhkan dan mempertahankan mangrove. Caranya, itu diukur dengan amdal. Saya adalah orang yang mengikuti amdal. Saya mengikuti komisi mewakili pemerintah melihat itu semua," bebernya.

Masalah komunikasi, sambung dia, juga dimiliki oleh pemerintah. Yang kurang aktif menyampaikan keputusan-keputusannya kepada asyarakat.

"Kita harus dewasa. Jangan hal-hal seperti ini menjadi komoditas politik. Apalagi menjelang Pilkada," ujarnya seraya mengatakan, jangan sampai pro-kontra reklamasi malah membuat sang investor malas menanamkan investasinya.

Penulis : Surya
Editor    :  Maria Gracia