Geliat Prostitusi di Bumi Mekepung

Rabu, 02 Maret 2016 15:04 Sport & Life Style

Bagikan

Geliat Prostitusi di Bumi Mekepung
(Ilustrasi/Semetonnews)

Jembrana, Semetonnews- Di Kabupaten Jembrana, Bali yang terkenal hingga manca Negara karena tradisi Makepungnya, ternyata menghadapi masalah social yakni prostitusi. Memang di kabupaten ujung barat pulau Bali ini tidak dijumpai lokalisasi, namun bukan berarti Jembrana terbebas dari bisnis lendir tersebut.


Justru prostitusi terselubung marak terjadi di kabupaten ini. Ironisnya, pemerintah dan istansi terkait terkesan tutup mata dan membiarkan bisnis penyumbang penularan HIV tertinggi ini berkembang pesat. Meskipun bisnis prostitusi terselubung ini dilakukan secara terang benderang.


Salah satunya di kawasan Desa Delod Berawah, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Di daerah ini berdiri puluhan kafe atau warung remang-remang tanpa memiliki izin di atas tanah Pelaba Pura. Kafe-kafe tersebut mempekerjakan wanita berpakaian super menor dan sexi sebagai pemandu pengunjung.


Wanita-wanita tersebut kebanyakan asal Jawa dan beberapa daerah luar Bali lainnya yang menerima upah dari hitungan botolan minuman keras yang dipesan oleh tamu.

Dari sejumlah cewek kafe yang berhasil dimintai keterangannya, mereka menerima upah Rp 11.000 per botolnya, tanpa ada isentif atau tunjangan lainnya dari pengelola kafe. Namun, meskipun penghasilan botolan sangat minim, kebanyakan cewek kafe tersebut bergaya hidup mewah karena penghasilannya sebulan melebihi Rp 5 juta.

Usut punya usut, ternyata sebagian besar cewek kafe tersebut nyambi sebagai wanita penghibur yang siap memberikan kenikmatan kepada laki-laki pengunjung kafe yang memerlukan jasanya. Profesi sebagai pelayan kafe ternyata hanya kedok semata.

“Jika hanya menggandalkan botolan, jelas kami dan keluarga di jawa tidak bisa nyambung hidup. Makanya kami nyambi sebagai wanita bokingan. Tapi itu kami lakukan setelah kafe tutuf,” aku LA (24), salah seorang cewek kafe asal Rogojampi, Jawa Timur, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya sebagian besar cewek kafe di Desa Delod Berawah tersebut nyambi sebagai wanita penghibur dengan tariff mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Namun mereka mengaku tidak mau melakukan di lingkungan kafe melainkan keluar mencari hotel-hotel terdekat.

Banyaknya cewek kafe yang menyambi sebagai wanita penghibur ternyata dibenarkan oleh sejumlah pengelola hotel dan penginapan yang ada di desa tersebut. Menurut mereka sekitar 70 persen hunian hotel di dominasi oleh cewek kafe yang mengajak pasangan kencannya untuk satu atau dua jam.

Terkait hal tersebut, Kasat Pol PP Pemkab Jembrana IGN Rai Budi dikonfirmasi Semetonnews melalui telpon, mengakui tidak menutup kemungkinan terjadi praktek prostitusi terselubung di wilayah tersebut.

Untuk menekannya, pihaknya akan lebih mengencarkan giat penyuluhan serta operasi-operasi kependudukan di wilayah tersebut. “Kami juga mengharapkan peran serta masyarakat dan istansi terkait lainnya untuk menekan praktik prostitusi tersebut,” harapnya.

Penulis  : Dewa Darmada