Indikasi Global Opening Rate

Selasa, 05 April 2016 09:27 Ekonomi Bisnis

Bagikan

Indikasi Global Opening Rate
Ilustrasi Valas
Denpasar, Semetonnews - Bursa Wall Street ditutup melemah yang ditandai dengan penurunan indeks Dow Jones sebesar 55.75 poin (-0.31%) ke level 17,737.00, indeks S&P 500  terkoreksi 6.65  poin (-0.32%)  ke level 2,066.13 dan indeks Nasdaq turun 22.75 poin (-0.46%) ke level 4,891.80 . 

Sementara itu dari pasar obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun, imbal hasilnya turun 1 bps ke level di level 1.763% merepon data-data ekonomi AS yang dirilis negatif. 

Dollar kembali mengalami koreksi pasca dirilisnya data factory orders dan durable goods orders tadi malam. Data factory orders di bulan Februari mencatatkan penurunan sebesar 1.7 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya naik 1.2 persen. Selain itu data durable goods orders turun 3.0 persen lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan di bulan sebelumnya. 

Dollar berpotensi melemah terbatas merespon data-data ekonomi yang diperkirakan dirilis bervariasi. Defisit neraca perdagangan di bulan Februari diperkirakan melebar dibandingkan dengan periode sebelumnya. Namun sinyal positif data sektor jasa dan manufaktur berpeluang untuk meredam pelamahan dollar lebih dalam. 

Indikasi local rate:
USD/IDR kemarin ditutup di kurs tengah (closing BI) 13,167.5 atau menguat 7.5 poin  dibandingkan dengan penutupan  sebelumnya berada di level 13,160 berdasarkan data Reuters. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami apresiasi  sebesar +6.99 poin atau 0.14% di level 4,850.18 sedangkan investor asing mencatatkan capital inflows  sebesar IDR 282 miliar. 

Rupiah sedikit terkoreksi diawal perdagangan minggu ini, ditengah sentimen positif terhadap dollar pasca dirilisnya data nonfarm payrolls yang mencatatkan kenaikan sebesar 215 ribu lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pelaku pasar yang meramalkan naik sebesar 205 ribu. Selain itu anjloknya harga minyak dunia turut berdampak negatif terhadap rupiah. 

IDR pagi ini dibuka melemah  di level 13,190.0 berdasarkan data Reuters. Pelemahan harga minyak dunia yang telah terjadi selama sembilan hari berturut-turut berpotensi berdapak negatif terhadap mata negara komoditas termasuk rupiah di perdagangan domestik hari ini.

Disisi lain hari ini pemerintah berencana akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara dengan target indikatif sebesar Rp 4 triliun. Seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S dan SBSN PBS berbasis proyek (Project Based Sukuk) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2016. Lelang tersebut berpeluang untuk dapat meredam pelemahan rupiah lebih dalam. 

Rupiah diprediksi bergerak melemah hari ini  di kisaran 13.175 – 13,275. 

(Disclaimer: BNI Morning Update merupakan informasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk trading, BNI tidak bertanggungjawab atas keputusan yang dibuat oleh investor/nasabah)


Editor : Rifky