Pasien "Diparkir" di Lorong RSUP Sanglah

Rabu, 02 Maret 2016 17:20 Peristiwa

Bagikan

Pasien
Pasien Terpaksa Nginap di Lorong RSUP Sanglah Akibat Lonjakan Jumlah Pasien, Rabu (2/3/2016). (Rafael/Semetonnews)

Denpasar, Semetonnews - Pasien yang datang ke RSUP Sanglah mengalami lonjakan. Alhasil, sejumlah pasien pun terpaksa mendapat perawatan di lorong IGD rumah sakit tersebut. kondisi ini bahkan terjadi sejak akhir Februari lalu.


Dari pantauan Semetonnews di lapangan, tampak sejumlah pasien terbaring diatas ranjang dengan posisi berjejer dilorong depan ruang Triage Internal RSUP Sanglah. Salah satu penunggu pasien, Wayan Ar, mengatakan merasa nyaman karena ditempatkan dilorong. Sebab,  lorong tersebut merupakan jalur evakuasi pasien dari ruang tindakan ke kamar inap.
 
Meskipun mendapat perawatan dilorong, Wayan mengaku tetap mendapat pelayanan yang sama dengan pasien yang ada di ruang tindakan IGD lainnya. "Kami disinikan hanya untuk sementara, sambil menunggu kamar inap yang kosong. Tadi datangnya jam 8 pagi dan sempat dirawat di dalam, tapi disuruh pindah ke sini," kata perempuan  Asal Desa buahan, Banjar selat, Gianyar tersebut.

Sementara itu, Direktur Umun dan Operasional RSUP Sanglah dr I Gusti Lanang Suartana Putra,MM mengatakan banyaknya pasien yang masuk di RSUP Sanglah tidak diprediksi, karena saat ini kita masih memasuki musim penghujan sehingga masyarakat mudah terjangkit panyakit. Apalagi, kalau prilaku hidup sehat masih rendah. Selain itu, kata dia, untuk menekan jumlah pasien yang ada di IGD, pihaknya perlu melakukan pemulangan pasien secara cepat dengan melihat perkembangan si pasien.

Selanjutnya, daerah  juga harus diperkuat dengan melakukan pelayanan sesuai dengan standar yang sudah berlaku yakni pasien yang mengunakan Jankesmas terlebih dahalu dirawat di Puskesmas. Selanjutnya, jika pasien tidak ada perkembangan baru dirujuk ke RS level II, kemudian jika perlu dilakukan tindakan lebih lanjut pasien harus dirawat di RS level III.

"Yang ke sanglah semestinya mereka yang masuk ke RS level 3. Jadi, harus ditanyakan dulu ke daerah, apakah disana memang pasiennya penuh atau tidak,” kata Suartana Putra.


Penulis   : Rafael
Editor    : Robinson Gamar