Dengar Kabar Keponakan Kecelakaan, Hadi tertipu transfer uang Rp17 juta

Jumat, 08 April 2016 01:15 Hukum & Kriminal

Bagikan

Dengar Kabar Keponakan Kecelakaan, Hadi tertipu transfer uang Rp17 juta
ilustrasi/Semetonnews
Jembrana, Semetonnews - Aksi penipuan yang mengabarkan soal kerabat kecelakaan kembali terjadi. Kali ini yang kena tipu adalah Herman Hadi (24) yang tertipu Rp17 juta. Itu setelah dirinya ditelpon seseorang meminta biaya perawatan keponakan yang mengalami kecelakaan. 

Dengan ditemani keluarganya Muhamad Nasir (30), dia menunduk lesu dan menangis dihadapan anggota polisi Polsek Mendoyo. Pasalnya kedua pria asal Banjar Pangkung Wani, Desa Yehsumbul, Kecamatan Mendoyo, Jembrana ini telah tertipu seseorang melalui telpon senilai Rp 17 juta.

"Saya ditelpon seseorang yang saya tidak kenal mengabarkan kalau ponakan saya yang bernama Ahmad Jumari sedang mondok di Jawa mengalami kecelakaan dan kepalanya pecah dan katanya masih di rawat di rumah sakit di Jawa,” cerita Hadi kepada petugas piket Polsek Mendoyo, Kamis (7/4).

Menurutnya dia ditelpon oleh seseorang yang tidak dikenalnya tadi siang sekitar pukul 13.30 wita dan meminta dirinya mentransper uang Rp 17,7 juta untuk biaya rumah sakit. Penelpon tersebut mengaku petugas rumah sakit yang merawat ponakannya.

"Tanpa pikir panjang saya langsung menyanggupinya karena orang tua ponakan saya ada di Sulawesi. Tapi saya bilang hanya punya uang tujuh belas juta rupiah,” ujarnya.

Pengakuannya saat itu langsung menuju ATM BRI di Jembrana dan mengirimkan uang ke rekening yang disiapkan oleh penelpon sebanyak Rp 17 juta.

"Setelah saya kirim uang itu barulah saya diberitahu oleh Nasir kalau itu hanya modus penipuan. Karena itulah saya panik dan melapor ke polisi,” tuturnya kepada petugas.

Tapi karena jumlah yang terkirim kurang dari permintaan penelpon, dia mengaku terus ditelpon agar mengirim kekurangannya lagi Rp 700 ribu. Tapi karena dia yakin itu penipuan dia hanya berpura-pura menyanggupi dan masih dalam perjalanan menuju bank.

"Sampai di kantor polisi juga saya masih di telpon untuk meminta uang lagi tujuh ratus ribu rupiah,” tutupnya.

Reporter : Dewa Putu Darmada ‎
Editor : Paksi Jalantaka ‎