Inilah Sebab Kecelakaan Pesawat di Halim Menurut KNKT

Selasa, 12 April 2016 02:30 Nasional

Bagikan

Inilah Sebab Kecelakaan Pesawat di Halim Menurut KNKT
Trannusa usai Tabrakan di Halim (Twitter- Semetonnews)
Jakarta, Semetonnews - Beberapa waktu lalu publik di hebohkan dengan Kecelakaan pesawat terbang di Bandara halim Perdana Kusuma. Saat itu Pesawat Batik Air jenis Boeing 737-800 yang mengangkut 49 penumpang bertabrakan dengan pesawat Transnusa jenis ATR di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, pada Senin (04/04) malam.

Insiden berawal dari pesawat Batik Air dengan rute Halim Perdanakusuma-Ujung Pandang akan lepas landas,  saat bersamaan pesawat Transnusa berada di landasan pacu dan sedang ditarik menuju hanggar. Akibatnya tabrakan tdak terelakan itupun terjadi, ujung sayap kiri pesawat Batik Air patah, sedangkan pesawat Transnusa mengalami patah pada bagian ekor horizontal dan ujung sayap kiri.

Insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa. Bandara Halim Perdanakusuma sempat ditutup selama beberapa jam, namun kembali beroperasi pada Selasa (05/04) dini hari WIB. Dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi merillis bahwa kecelakaan terjadi karena perbedaan penggunaan frequensi.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan,antara ATC dengan pesawat menggunakan jenis frekuenai VHF atau "Very High Frequency" sementara antara ATC dengan "ground handling" menggunakan tipe frekuensi "UHF" atau "Ultra High Frequency".
"Kalau di 'tower' (ATC) dia pakainya VHF ke 'ground handling' enggak akan mengerti, begitu juga kalau ke pesawat pakainya UHF," ungkapnya di Jakarta, Senin (11/4/2016). Soerjanto berpendapat, ketidaksamaan frekuensi tersebut berpotensi bahwa informasi yang disampaikan tidak bisa diterima baik oleh pesawat, dalam hal ini, pilot maupun petugas "ground handling".


Sementara, Direktur Utama Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav Indonesia) Bambang Tjahjono mengatakan fakta atau temuan KNKT baru terjadi di Bandara Halim Perdanakusuma, pihaknya akan melakukan pengecekan kembali. "Ini yang mau dilihat oleh KNKT kenapa, kebiasaan atau 'SOP'-nya seperti apa," ujarnya.

Ketua Airnav menilai harusnya seluruhnya gunakan satu frekuensi VHF, di bandara yang lain juga seperti itu. Iapun berjanji akan mengganti seluruh sistem menjadi satu frekuensi VHF seseuai dengan rekomendasi KNKT. Direktur Navigasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Novie Riyanto mengatakan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan seharusnya seluruhnya menggunakan satu frekuensi, yaitu VHF.

"Aturan dari kita harus sama frekuensi, di Bandata Soetta juga seperti itu," katanya.
Saat ini, lanjut dia, masih dalam tahap investigasi prosedurnya seperti apa dan dijalankan atau tidak.

Reporter : Nesa