Thailand dan Malaysia adalah Musuh Indonesia dalam Pariwisata

Rabu, 20 April 2016 15:59 Wisata

Bagikan

Thailand dan Malaysia adalah Musuh Indonesia dalam Pariwisata
Menteri Pariwisata Arif Yahya . Sur/Semetonnews
Nusa Dua, Semetonnews – Menteri Pariwisata Arif Yahya secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2016 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). 

Dalam sambutannya, Menteri Arif menegaskan jika hasil yang luar biasa bisa saja didapat dari cara yang tidak biasa. Seperti yang dihasilkan dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata beberapa waktu lalu. 

"Apakah cara yang tidak biasa itu harmoninya spirit dan strategic. Oleh karenanya kita sepakat membuat culture di internal yang kita namai win way, seperti jurus untuk mencapai kemenangan. WIN juga berarti Wonderdul Indonesia," papar Arif, Rabu 20 April 2016.

Pada kesempatan itu ia memaparkan tiga hal agar pariwisata Indonesia mengungguli negara lain. Yang pertama katanya adalah spirit atau semangat. Bagi Arif, semangat lebih hebat ketimbang strategi. Strategi saja tanpa semangat baginya tak cukup. "Spirit membuat kita menjadi hebat," tegas dia.

Ia mengajak semua pihak belajar dari Thailand. Menurut Arif, Thailand sangat hebat dalam hal semangat memenangkan peperangan dalam konteks industri pariwisata. 

"Mereka hebat sekali. Dari mulai rajanya sampai cleaning service-nya, kalau bicara pariwisata itu hebat," ungkapnya.

Ia bercerita, pernah suatu ketika terjadi pembunuhan di salah satu destinasi wisata Thailand. Namun, hal itu urung diberitakan oleh media demi Thailand, demi bangsa mereka. 

"Itulah hebatnya mereka. Nanti kita lihat Thailand itu tumbuhnya paling besar. Dan save devisa paling besar. Saya pernah bilang begini, kalau Indonesia punya Bali, maka ASEAN punya Thailand. Karena memang dalam hal peperangan, mereka solid," papar dia.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah soliditas lintas sektor. "Untuk membuat solid, kita juga harus pnya common enemy. Kalau tidak, maka musuh kita itu ada. Musuh kita itu bukan kita. Saya bagi dua musuhnya yakni Thailand dan Malaysia. Sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan," jelas Arif.

Kelemahan bangsa ini menurut Arif adalah terlalu lelet. Bagi dia, dalam konteks persaingan bukan yang besar makan yang kecil. 

"Tapi yang cepat makan yang lambat. Malaysia lebih kecil dari Indonesia tapi kita kalah dari mereka. Kita kalah dari Thailand yang lebih kecil. Bahkan kita kalah dari Singapura yang lebih kecil. Kita lambat," sesalnya mengakhiri.


Reporter : Surya 
Editor : Paksi Jalantaka